Kisah Solikatin: Merajut Hidup Sehat dari Pintu ke Pintu

By Revolusioner 19 Des 2025, 10:03:42 WIB LAZ
Kisah Solikatin: Merajut Hidup Sehat dari Pintu ke Pintu

Keterangan Gambar : Foto: Dok.Dompetdhuafa.org


Pada Selasa siang (11/11/2025), Siti Solikatin (29) tampak bahagia sambil menggendong anak keduanya. Ia merupakan salah satu warga penerima manfaat Program Kawasan Sehat yang dilaksanakan di Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, sejak Mei 2025.

Sejak program tersebut berjalan, Solikatin rutin mengikuti Kelas Ibu Hamil, memperoleh paket nutrisi, serta menerima bantuan jamban sehat melalui kolaborasi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa dan PT Pagatan Usaha Makmur (PUM).

Sebelum memiliki jamban, sungai menjadi pusat aktivitas Solikatin. Ia mencuci, mandi, hingga buang air di sana. Bahkan saat mengandung anak pertamanya, ia tetap harus turun ke tepi sungai, menunggu perahu klotok melintas atau pedagang ikan pergi agar bisa beraktivitas dengan leluasa.

Baca Lainnya :

Kondisi tersebut semakin menyulitkan di malam hari. Setiap kali hendak ke sungai, Solikatin harus membangunkan suaminya atau menahan rasa tidak nyaman, terutama karena kehamilan membuatnya lebih sering buang air kecil.

“Dulu sebelum punya jamban semuanya di sungai. Kalau mau BAB, anak nangis karena enggak bisa ditinggal,” tutur Solikatin mengenang.

Keterbatasan fasilitas sanitasi dan minimnya pemahaman kesehatan menjadi tantangan besar bagi Solikatin dan para ibu lainnya di Desa Jaya Makmur sebelum Program Kawasan Sehat hadir. Sungai yang menjadi sumber kehidupan justru juga dimanfaatkan sebagai tempat buang air, membuat privasi dan rasa aman—terutama bagi perempuan dan ibu hamil—sangat terbatas.

Pengetahuan Solikatin tentang kesehatan kehamilan dan perawatan bayi pun masih minim. Ia menjalani semuanya berdasarkan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dalam Kelas Ibu Hamil yang didampingi Sulrahmi. Melalui kegiatan ini, Solikatin mendapatkan paket nutrisi berisi telur, buah, makanan tambahan, serta minuman bergizi. Ia mengikuti kelas sebanyak tiga kali dan menerima paket nutrisi dua kali, sejak usia kandungan lima bulan hingga menjelang persalinan.

Tak hanya bantuan materi, kelas tersebut juga membekali Solikatin dengan pengetahuan penting. Ia mempelajari senam ibu hamil, mengenali tanda bahaya selama kehamilan dan masa nifas, serta memahami cara merawat bayi dengan benar.

“Sekarang saya jadi lebih paham ngurus bayi. Misalnya setelah menyusu, bayi harus sering disendawakan. Manfaatnya terasa banget,” ujarnya.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin juga dilakukan. Ibu hamil dengan kadar hemoglobin rendah memperoleh tambahan paket nutrisi sebagai upaya pencegahan anemia. Solikatin pun menerima bantuan stimulan pembangunan jamban sehat berupa kloset, pipa paralon, dan tiga sak semen. Tak berselang lama, jamban tersebut selesai dibangun dan langsung digunakan.

“Sekarang sudah bisa buang air dengan nyaman kapan saja. WC-nya ada di rumah, jadi enggak perlu ke sungai lagi. Malam-malam juga enggak perlu keluar atau bangunin suami, apalagi pas hamil sering pipis,” ungkapnya dengan lega.

Kecemasan menunggu perahu lewat atau orang berhenti di depan rumah kini tak lagi dirasakan. Solikatin dapat memenuhi kebutuhan sanitasi dengan aman dan tenang.

Baginya, bantuan jamban sehat menjadi pemicu untuk mewujudkan keinginan lama membangun fasilitas sanitasi sendiri yang sebelumnya selalu tertunda karena keterbatasan dana. Kehadiran stimulan dan pendampingan fasilitator membuat rencana tersebut akhirnya terwujud.

“Senang sekali, Alhamdulillah. Ada pancingan jadi lebih semangat. Kalau enggak ada bantuan dan pendampingan, mungkin masih ditunda-tunda,” tuturnya.

Di Desa Jaya Makmur, Program Kawasan Sehat telah menjangkau ratusan penerima manfaat. Kegiatannya meliputi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi sekitar 150 bayi dan balita, kunjungan ibu nifas dengan paket nutrisi, serta Kelas Ibu Hamil yang berhasil menekan angka Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia hingga nol kasus.

Pendampingan berlanjut melalui Kelas Ibu Balita, pemberian paket nutrisi untuk balita dengan masalah gizi, serta demonstrasi memasak makanan bergizi. Kegiatan ini membuka pemahaman para ibu bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan, tetapi juga pola asuh, sanitasi, dan kondisi lingkungan.

Melalui Program Kawasan Sehat, perubahan tidak hanya hadir dalam bentuk fasilitas dan layanan, tetapi juga tumbuhnya kesadaran bahwa hidup sehat adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama.

Kontributor: Wilsa

Editor: MAS

Sumber: Dompetdhuafa.org 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment