- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
Kisah Solikatin: Merajut Hidup Sehat dari Pintu ke Pintu

Keterangan Gambar : Foto: Dok.Dompetdhuafa.org
Pada Selasa siang (11/11/2025), Siti Solikatin (29) tampak
bahagia sambil menggendong anak keduanya. Ia merupakan salah satu warga
penerima manfaat Program Kawasan Sehat yang dilaksanakan di Desa Jaya Makmur,
Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, sejak Mei
2025.
Sejak program tersebut berjalan, Solikatin rutin mengikuti
Kelas Ibu Hamil, memperoleh paket nutrisi, serta menerima bantuan jamban sehat
melalui kolaborasi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa dan PT
Pagatan Usaha Makmur (PUM).
Sebelum memiliki jamban, sungai menjadi pusat aktivitas
Solikatin. Ia mencuci, mandi, hingga buang air di sana. Bahkan saat mengandung
anak pertamanya, ia tetap harus turun ke tepi sungai, menunggu perahu klotok
melintas atau pedagang ikan pergi agar bisa beraktivitas dengan leluasa.
Baca Lainnya :
- Rumah Zakat Salurkan Donasi untuk 4.500 Warga Padang0
- LAZISNU Bondowoso Tebar Sembako dan Layanan Kesehatan 0
- Rumah Zakat Bantu Petani Cibeureum Farm0
- Rumah Zakat Sehatkan Lansia Dengan Senam dan Posyandu0
- Tebus Beras Rp20 Ribu, MAI Jateng-DIY Bantu Dhuafa 0
Kondisi tersebut semakin menyulitkan di malam hari. Setiap
kali hendak ke sungai, Solikatin harus membangunkan suaminya atau menahan rasa
tidak nyaman, terutama karena kehamilan membuatnya lebih sering buang air
kecil.
“Dulu sebelum punya jamban semuanya di sungai. Kalau mau
BAB, anak nangis karena enggak bisa ditinggal,” tutur Solikatin mengenang.
Keterbatasan fasilitas sanitasi dan minimnya pemahaman
kesehatan menjadi tantangan besar bagi Solikatin dan para ibu lainnya di Desa
Jaya Makmur sebelum Program Kawasan Sehat hadir. Sungai yang menjadi sumber
kehidupan justru juga dimanfaatkan sebagai tempat buang air, membuat privasi
dan rasa aman—terutama bagi perempuan dan ibu hamil—sangat terbatas.
Pengetahuan Solikatin tentang kesehatan kehamilan dan
perawatan bayi pun masih minim. Ia menjalani semuanya berdasarkan kebiasaan
yang diwariskan secara turun-temurun.
Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dalam Kelas
Ibu Hamil yang didampingi Sulrahmi. Melalui kegiatan ini, Solikatin mendapatkan
paket nutrisi berisi telur, buah, makanan tambahan, serta minuman bergizi. Ia
mengikuti kelas sebanyak tiga kali dan menerima paket nutrisi dua kali, sejak
usia kandungan lima bulan hingga menjelang persalinan.
Tak hanya bantuan materi, kelas tersebut juga membekali
Solikatin dengan pengetahuan penting. Ia mempelajari senam ibu hamil, mengenali
tanda bahaya selama kehamilan dan masa nifas, serta memahami cara merawat bayi
dengan benar.
“Sekarang saya jadi lebih paham ngurus bayi. Misalnya
setelah menyusu, bayi harus sering disendawakan. Manfaatnya terasa banget,”
ujarnya.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin juga dilakukan. Ibu
hamil dengan kadar hemoglobin rendah memperoleh tambahan paket nutrisi sebagai
upaya pencegahan anemia. Solikatin pun menerima bantuan stimulan pembangunan
jamban sehat berupa kloset, pipa paralon, dan tiga sak semen. Tak berselang
lama, jamban tersebut selesai dibangun dan langsung digunakan.
“Sekarang sudah bisa buang air dengan nyaman kapan saja.
WC-nya ada di rumah, jadi enggak perlu ke sungai lagi. Malam-malam juga enggak
perlu keluar atau bangunin suami, apalagi pas hamil sering pipis,” ungkapnya
dengan lega.
Kecemasan menunggu perahu lewat atau orang berhenti di depan
rumah kini tak lagi dirasakan. Solikatin dapat memenuhi kebutuhan sanitasi
dengan aman dan tenang.
Baginya, bantuan jamban sehat menjadi pemicu untuk
mewujudkan keinginan lama membangun fasilitas sanitasi sendiri yang sebelumnya
selalu tertunda karena keterbatasan dana. Kehadiran stimulan dan pendampingan
fasilitator membuat rencana tersebut akhirnya terwujud.
“Senang sekali, Alhamdulillah. Ada pancingan jadi lebih
semangat. Kalau enggak ada bantuan dan pendampingan, mungkin masih
ditunda-tunda,” tuturnya.
Di Desa Jaya Makmur, Program Kawasan Sehat telah menjangkau
ratusan penerima manfaat. Kegiatannya meliputi Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
bagi sekitar 150 bayi dan balita, kunjungan ibu nifas dengan paket nutrisi,
serta Kelas Ibu Hamil yang berhasil menekan angka Kekurangan Energi Kronis
(KEK) dan anemia hingga nol kasus.
Pendampingan berlanjut melalui Kelas Ibu Balita, pemberian
paket nutrisi untuk balita dengan masalah gizi, serta demonstrasi memasak
makanan bergizi. Kegiatan ini membuka pemahaman para ibu bahwa stunting tidak
hanya berkaitan dengan asupan makanan, tetapi juga pola asuh, sanitasi, dan
kondisi lingkungan.
Melalui Program Kawasan Sehat, perubahan tidak hanya hadir
dalam bentuk fasilitas dan layanan, tetapi juga tumbuhnya kesadaran bahwa hidup
sehat adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama.
Kontributor: Wilsa
Editor: MAS
Sumber: Dompetdhuafa.org

1.png)







.jpg)
.png)
.png)