Dompet Dhuafa Kirim Donasi ke Desa Terpencil Aceh Tengah

By Revolusioner 05 Jan 2026, 09:34:49 WIB LAZ
Dompet Dhuafa Kirim Donasi ke Desa Terpencil Aceh Tengah

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org


Pasca banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, misi kemanusiaan dihadapkan pada tantangan medan yang berat. Pada Rabu (24/12/2025), tim respons Dompet Dhuafa berhasil menjangkau Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, yang sebelumnya terisolasi akibat putusnya akses penghubung.

Jalur darat menuju desa tersebut tidak dapat dilalui setelah jembatan utama rusak diterjang banjir. Sebanyak 48 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal, dengan 17 KK mengungsi di SDN 15 Ketol dan 31 KK lainnya menempati Kantor Desa Ketol. Untuk menyalurkan bantuan, tim harus melewati jembatan darurat berupa sling baja yang membentang di atas Sungai Peusangan, tepatnya di kawasan Berawang Gajah. Jembatan tersebut merupakan hasil swadaya dan kepedulian masyarakat setempat.

Melalui jembatan gantung berbahan kabel sling itu, Dompet Dhuafa menyalurkan sekitar 800 kilogram logistik secara bertahap. Upaya berisiko ini dilakukan demi memastikan warga Desa Burlah tetap mendapatkan bantuan pangan dan tidak mengalami krisis yang lebih parah akibat keterisolasian wilayah.

Baca Lainnya :

Sebelumnya, total tiga ton bantuan telah tiba di Takengon, Aceh Tengah, pada Selasa (23/12/2025). Bantuan tersebut dikirim melalui jalur udara menggunakan pesawat ATR dari Jakarta dan Medan bersama mitra kemanusiaan Dompet Dhuafa, kemudian didistribusikan ke berbagai lokasi pengungsian di Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.

Adapun bantuan yang disalurkan meliputi bahan pangan siap konsumsi seperti beras, rendang, dan sambal teri, obat-obatan, perlengkapan sanitasi termasuk alat penyaring air untuk mengatasi keterbatasan air bersih, serta dukungan energi berupa genset guna penerangan darurat di wilayah terdampak pemadaman listrik.

Berdasarkan data nasional hingga Selasa (30/12/2025), jumlah korban meninggal dunia akibat banjir di Sumatra mencapai 1.140 jiwa. Kondisi di Aceh Tengah, termasuk penggunaan jembatan sling baja, menggambarkan rusaknya infrastruktur vital yang menghubungkan antardesa.

“Karena menggunakan sistem sling, kami harus bolak-balik menyeberangi Sungai Peusangan-Berawang Gajah. Setiap penyeberangan hanya dapat membawa muatan maksimal 200 kilogram,” ujar Shofa Qudus, Kepala DMC Dompet Dhuafa.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan pangan menjadi prioritas utama. “Warga sudah menunggu, dan bantuan makanan tidak bisa ditunda,” tambahnya.

Kontributor: Wilsa

Editor: MAS

Sumber: Dompetdhuafa.org




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment