- Persis Peduli Evakuasi Korban Longsor Cisarua
- Relawan Muhammadiyah Hadirkan Sekolah Darurat di Aceh
- Lazismu Pekanbaru Salurkan School Kit
- Zakat dan Pendayagunaan Sektor Pendidikan
- Beasiswa Filantropi: Jalan Strategis Pemberdayaan dan Keadilan Pendidikan
- Fadhilah Zakat dan Sedekah pada Ramadhan 2026
- Filantropi Islam dan Tantangan Keberlanjutan Sosial
- Lazismu Riau Kirim Bantuan ke Aceh Tamiang
- PT Telkom dan LAZ Harfa Tanggulangi Stunting di Tiga Provinsi
- Rumah Zakat Pulihkan Fasilitas Sekolah di Kalsel
ATM Beras DD, Alirkan Asa ke Dhuafa

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org
Di sebuah sudut Masjid Al-Muhajirin, Sekupang, berdiri sebuah mesin yang tampak sederhana. Namun bagi banyak keluarga prasejahtera di Kepulauan Riau, mesin itu bukan sekadar benda elektronik. Ia menjadi harapan ATM Beras, inovasi bantuan pangan yang memungkinkan para penerima manfaat mendapatkan beras tanpa harus mengantre panjang atau merasa sungkan menerima bantuan.
Mesin ini telah beroperasi sejak Juli 2022, dan hingga kini masih setia menyalurkan beras setiap bulan. Di balik keberlanjutannya, ada aliran kebaikan dari ribuan pengguna aplikasi DANA. Melalui fitur donasi mini yang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, setiap sedekah yang dikirim dari layar ponsel berubah menjadi beras yang langsung jatuh ke ember para penerima manfaat.
Pada Sabtu (15/11/2025), halaman Masjid Al-Muhajirin tampak lebih ramai dari biasanya. Dompet Dhuafa Cabang Kepri mengumpulkan 100 penerima manfaat mulai dari warga kurang mampu hingga para marbot masjid untuk menerima kartu ATM Beras dan mendapatkan penjelasan tentang cara penggunaannya.
Baca Lainnya :
- BAZNAS Persembahkan Layanan Medis Gratis 0
- Lazismu Expo 2025 Ramaikan Bumi Lambung Mangkurat0
- Baitul Maal Hidayatullah dan TNI Bangun Sumur Bor di Sidoarjo 0
- Bank Aceh Berzakat ke Baitul Mal Abdya Rp 500 Juta0
- Potensi Zakat Kaltim Rp6 T, Baru Terhimpun Rp20 M0
Wulan Rahmadani, Manager Program Dompet Dhuafa (DD) Kepri, memegang beberapa kartu berwarna hijau yang menjadi “kunci” bagi para penerima manfaat. Ia menjelaskan dengan sabar bagaimana kartu tersebut bekerja. “Satu kartu bisa digunakan sekali dalam sebulan, dan setiap penarikan akan mengeluarkan lima kilogram beras,” ujarnya. Baginya, kartu ini bukan hanya alat, tetapi simbol kemandirian karena setiap orang bisa mengambil beras tanpa rasa sungkan.
Di antara kerumunan, ada sosok Siti Sofia. Sehari-hari ia menyapu dan menjaga kebersihan masjid—tugas mulia yang jarang terlihat namun sangat berarti. Untuk menambah penghasilan, Siti bekerja sebagai pengemudi ojek. Hidupnya harus dibagi antara menjaga masjid, mengejar penumpang, dan mengurus kebutuhan sekolah anaknya.
Ketika kartunya di-tap ke mesin, dan butiran beras mulai mengalir ke wadah kecilnya, matanya berkaca-kaca. “Alhamdulillah, bantuan ini membuat saya lebih tenang. Pendapatan dari ngojek bisa saya fokuskan untuk sekolah anak,” ucapnya dengan senyum yang nyaris tak mampu ia sembunyikan.
Bagi Siti dan keluarga lainnya, lima kilogram beras bukan sekadar makanan. Ia adalah napas kehidupan, ruang untuk bernapas lebih lapang di tengah biaya hidup yang terus naik.
Dompet Dhuafa berharap makin banyak orang yang membuka hati untuk berbagi. Sebab, melalui teknologi dan kepercayaan donatur, bantuan bisa mengalir lebih mudah, cepat, dan tepat sasaran. Dari tampilan ponsel hingga butiran beras di tangan para dhuafa rantai kebaikan itu terus terhubung.
Kontributor: Sri Wahyuni
Editor: MAS
Sumber: Dompetdhuafa.org

1.png)







.jpg)
.png)
.png)